Sifilis Kembali Meningkat, Deteksi Segera dengan Tes VDRL

Sifilis atau penyakit raja singa merupakan salah satu jenis penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri. Cara mendeteksinya adalah dengan melakuka tes VDRL. Tes VDRL merupakan skrining awal untuk mendeteksi adanya penyakit raja singa. Selain itu, pemeriksaan ini juga mampu membantu dokter untuk menentukan penanganan dan pencegahan kemungkinan terjadinya komplikasi akibat siflis.

Penyebab dan Penularan Sifilis

Penyebab sifilis adalah infeksi bakteri Treponema pallidum. Gejala sifilis berawal dari  munculnya luka yang tidak terasa sakit pada area kelamin, mulut, atau dubur. Penularannya dari orang ke orang melalui kontak kulit atau selaput lendir dengan luka.

Luka  pada area kelamin yang menjadi gejala sifilis (raja singa) sering kali tidak terlihat dan tidak terasa sakit sehingga tidak penderita tidak menyadarinya. Kendati demikian,  pada tahap ini infeksi sudah bisa ditularkan ke orang lain.

Setelah infeksi awal, bakteri penyebab penyakit menular seksual satu ini bisa menetap dan tidak aktif dalam tubuh selama beberapa dekade sampai akhirnya kemudian akan aktif kembali. Jika terdeteksi lebih awal, penyakit sifilis ini akan lebih mudah untuk sembuh dan tidak akan menyebabkan kerusakan permanen.

Baca Juga: Mengenal Penyakit Menular Seksual Sifilis

Namun, jika tidak mendapatkan pengobatan yang tepat, dapat menyebabkan risiko kerusakan serius pada otak atau sistem saraf organ lainnya. Kondisi ini tentunya bisa mengancam jiwa. Tidak hanya dari kontak orang ke orang, penyakit ini juga bisa  menular dari ibu hamil yang terinfeksi ke janin dalam kandungan.

Menurut laporan tahunan  dari Pusat Pengendalian Penyakit (CDC), tingkat penyakit menular seksual sifilis tetap tinggi pada 2019 hingga 2020. Menurut Laporan Surveilans STD 2020 CDC , jumlah kasus sifilis melonjak sebanyak tujuh persen. Jumlah ini bisa sangat berbahaya bagi bayi baru lahir.

Untuk memastikan apakah seseorang terinfeksi penyakit ini, melakukan  skrining awal melalui tes VDRL dapat dilakukan,  pada orang yang berisiko tinggi tertular penyakit ini.

Tentang Tes VDRL

Tes venereal disease research laboratory (VDRL) adalah pemeriksaan dengan cara mengukur antibodi atau sel imun yang tubuh produksi ketika bersentuhan dengan bakteri penyebab sifilis.

Tes VDRL merupakan  pemeriksaan yang akurat untuk mendiagnosis sifilis. Jadi, sebenarnya tidak perlu mengalami gejala sifilis dulu untuk menjalani pemeriksaan ini. Namun, test VDRL ini juga bisa dilakukan ketika seseorang sedang menjalankan perawatan rutin pranatal selama kehamilan atau ketika menunjukkan gejala:

  • Luka yang tidak terasa sakit pada area kelamin
  • Pembengkakan kelenjar getah bening, terutama pada area selangkangan
  • Ruam yang tidak gatal

Selain itu, orang yang memiliki banyak pasangan seksual dan tidak menggunakan kondom saat berhubungan seksual juga sebaiknya  melakukan tes ini. Sebab akan berisiko tinggi untuk tertular atau bahkan menularkan penyakit ini. Melakukan deteksi sifilis sedini mungkin, maka harapannya bagi  penderita bisa mendapatkan penanganan secepat mungkin.

Prosedur Tes Sifilis VDRL

Prosedur tes VDRL pada dasarnya  sama dengan prosedur pengambilan darah pada umumnya, berikut prosedurnya:

  • Petugas medis akan memasang tali pengikat pada lengan agar vena mudah terlihat, sehingga memudahkan proses pengambilan darah.
  • Bersihkan area pengambilan darah dengan kapas beralkohol (alcohol swab).
  • Pengambilan sampel darah dengan menggunakan jarum suntik.
  • Setelah pengambilan darah,  area bekasnya akan ditutup dengan plester.
  • Sampel darah kemudian dibawa ke laboratorium untuk dianalisis.

Hasil Tes VDRL

Ada dua kemungkinan hasil yang dapat muncul setelah menjalani tes VDRL, yaitu:

  • Negatif, berarti tidak terdapat antibodi terhadap bakteri sifilis dalam tubuh
  • Positif, artinya terdeteksi antibodi terhadap bakteri sifilis dalam tubuh

Keakuratan tes ini sebenarnya bergantung pada stadium penyakit. Hasil tes akan lebih akuran pada stadium menengah, namun akan kurang akurat pada tahapan awal dan lanjut.

Pada beberapa kasus, tes ini bisa menunjukkan hasil negatif padahal seseorang yang melakukan tes menderita sifilis. Penyebabnya biasanya terjadi pada tahap awal terinfeksi raja singa, ketika jumlah antibodi terhadap penyakit ini tidak cukup banyak untuk bisa terdeteksi.

Begitupun sebaliknya, terkadang tes menunjukkan hasil positif meski sebenarnya ia tidak menderita penyakit raja singa. Penyebabnya adalah kondisi medis lain, seperti HIV/AIDS, lupus, tuberkolosis, malaria atau penyakit Lyme. Kondisi medis tersebut dapat memicu tubuh membentuk antibodi yang mirip dengan antibodi penyakit raja singa ini.

Oleh sebab itu, ;angkah selanjutnya untuk mengonfirmasi penyakit raja singa adalah dengan menjalani pemeriksaan FTA-ABS (tes sifilis yang lebih spesifik). Setelah mengonfirmasi penyakit sifilis, dokter mungkin akan mendiskusikan rencana pengobatan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jl. Raya Jatiasih No. 7, Jatiasih, Bekasi 17423

0811-9620-225

marketingrumahsunat@gmail.com

Pendaftaran Online

Pendaftaran Online

Daftar Sekarang